About Me

Foto saya
Hanya orang biasa yang menyempatkan untuk berkarya.

Jumlah yang sudah singgah

Senin, 19 Januari 2015

Nyeritain IPA 5 (lagi)

Jadi ceritanya kemarin aku ngabisin waktu hampir seharian di luar rumah. Kegiatannya pun sebenarnya berawal dari rencana-rencana yang gak direncanakan. Ajakan tiba-tiba entah kenapa ya, begitu mudah terlaksana. Aneh memang, keseringan kita membuat rencana jauh-jauh hari, ngelakuin persiapan ini-itu, tapi ujung-ujungnya malah gak jadi. 

Nah, salah satu rencana yang gak direncanakan kemarin itu adalah ngumpul-ngumpul sesama teman sekelas pas SMA. Waktu itu udah jam 7 malam, aku baru selesai dari rencana (yang gak direncanakan) lainnya. Tiba-tiba aja grup chat heboh ngajakin ngumpul. Responnya bagus, banyak yang bilang oke dan setuju. Nah, karena males pulang dan udah tanggung juga di luar, aku ikutan, walau sebenarnya badan udah lapuk seharian di luar rumah. 

Sayangnya ngumpul-ngumpul kali ini aku gak bisa lama-lama kayak biasa. Karena kegiatan siangnya yang udah super capek, badan aku udah gak kuat lagi dan akhirnya nyerah. Untuk itu, aku minta izin dulu pulang duluan sama teman-teman. Sebenarnya masih kangen, tapi emang udah gak sanggup lagi. Pengen rebahan terus tidur.



Nah, pas perjalanan pulang entah kenapa aku tiba-tiba kepikiran tentang kelakuan-kelakuan aneh kami pas SMA dulu. Mungkin karena efek masih kangen juga kan, jadinya pas sendirian di jalan mendadak flashback gitu. Kelakuan yang terlintas pas dalam perjalanan itu bikin aku senyum-senyum sendiri. Padahal kalau aku ingat lagi, kelakuan kami yang waktu itu biasa aja. Biasa, karena emang lagi ngalamin dan sering kejadian. Eh tapi kalau sekarang udah lulus dan gak sama-sama lagi, kelakuan kami itu malah jadi kerasa aneh, unik, dan kalau dipikir-pikir bakal bikin kita menggumam, "Kok bisa ya.."

Awalnya pas di jalan pulang, aku melayangkan pikiran tentang blog ini. Asiknya ditulisin apa ya. Padahal dulu rajin dan gampang banget rasanya kalau mau nulis. Idenya ngalir terus. Setelah aku pikir-pikir, eh rupanya ide itu selalu datang karena teman semeja aku, si Fanny. Tiap lagi malas merhatiin pelajaran, keseringan aku nyoret-nyoret buku 'serba guna'-nya Fanny. Nyoret-nyoretnya bukan kayak coretan anak-anak yang baru pandai megang pensil ya, tapi di sini maksudnya lebih ke nulis hal-hal gak penting. Misal ngebahas tentang kecepatan perputaran turbulensi mesin kapal atau gimana seandainya kalau surga-neraka itu gak ada, semuanya aku tuangin di bukunya Fanny. Biasanya dia juga heran dan marah karena bukunya dipakai untuk coretan gak penting, tapi pas udah ngebaca tulisan yang ada, kami selalu dilibatkan dengan diskusi dan perdebatan sengit.

Kalau udah gini biasanya pelajaran di papan tulis udah gak diperhatiin lagi karena udah kalah menarik dengan bahasan kami. Keseringan, pas belajar Fisika, Ibu Gurunya sering diam mendadak gitu padahal lagi asik nerangin materi. Kami yang udah asik diskusi gak sadar kalau Ibu itu sedang merhatiin kami, makanya dia diam dan berhenti nerangin materi. Karena udah kepergok gini, kami ya mau gimana lagi, pura-pura bego aja. Kadang si Fanny pura-pura lupa ingatan.

Diskusi aku sama Fanny gak jarang juga ngelibatin anggota-anggota lain dalam kelas, khususnya orang paling dekat duduknya dengan kami. Yaitu Yuli (laki-laki) dan Angga yang persis duduk di depan kami. Yuli dan Angga duduk di barisan pertama sejajar dengan papan tulis. Kami tepat berada di belakang mereka. Selain ibu Fisika, ibu Matematika juga gak jarang mergokin kami yang malah asik sendiri. Kalau udah gini, biasanya dia ngejebak kami dengan nyuruh ngerjain soal di papan tulis. Yang sering jadi tumbal itu pasti Yuli. Karena cuma dia yang punya buku cetak di antara kami. 

Setelah flashback dengan kejadian-kejadian tadi, aku tiba-tiba sadar, ternyata kalau aku ingat lagi, aku juga yang paling suka bikin keanehan di kelas. Aku tiba-tiba ingat gimana dengan polosnya dan santai pas ganti celana olahraga di kelas doang. Meskipun banyak anak cewek, akunya dulu mikir bodo amat lah. Kalau lagi mood, aku sadar diri ganti celana di balik lemari kelas, biar gak bisa diliat anak-anak cewek. Tapi kalau lagi kambuh penyakitnya, aku biasanya lari ke dinding paling belakang terus teriak, "Jangan lihat ke belakang ya woi, aku ganti celana!" lalu dengan santainya membuka celana tanpa rasa malu. Gak jarang juga sih dari mereka yang udah dilarang liat ke belakang malah kepo dan sengaja liat aku ganti celana. Dasar mesum.

Terus selain itu ada lagi kebiasaan aneh aku di kelas. Aku selalu sakit perut, dan sesak pup pagi-pagi antara jam 8 dan 9. Entah kenapa. Selalu mulas, dan maksa aku buat lari terbirit-birit ke WC. Gak jarang juga guru mata pelajaran yang mengajar pada jam segitu merasa aku gak suka sama pelajaran dia. Padahal enggak, emang lagi sakit perut aja....... ngeliat dia ngajar. 

Kalau lagi malas belajar (biasanya hampir setiap mata pelajaran), aku ngambil kesempatan pada saat tinta spidol habis dan sang guru nyuruh untuk ngisi ulang tintanya, yang mana selalu aku yang disuruh karena emang kebetulan aku adalah ketua (baca: babu) di kelas itu. Kadang, mereka beralasan karena ngisi tinta itu bisa lewat kulit aku. Iyasih, aku item, tapi gak gitu-gitu juga, kampret. Dan pas lagi ngisi tinta, aku sengaja numpahin sedikit tintanya ke tangan biar berbekas dan setelah itu bisa izin ke luar untuk ngebersihin bekas tintanya. Lalu, dengan tanpa rasa bersalah, aku pun berada di luar kelas dan gak masuk-masuk lagi sampai jam pelajaran habis dengan kedok mencuci tangan dari noda tinta.

Selain berak rutin, kebiasaan aku paling diingat adalah datang telat. Aku selalu datang beberapa detik sebelum bel masuk bunyi. Parkirin motor dengan posisi paling dekat dengan kelas, kalau bisa langsung parkir di dalam kelas. Ada sih beberapa kali aku datang ke sekolah lebih cepat dari biasanya, bahkan datang pagi-pagi sekali, saat kelas masih diisi 2-3 orang. Saking herannya, kadang mereka mengira yang datang itu bukan aku, melainkan hanya ilusi optik belaka. Baru setelah aku menegur mereka, mereka langsung kaget dan kadang-kadang ada yang pingsan nyangkain aku hantu, atau ada juga yang masih kuat imannya dan bilang, "Eh beneran Andi rupanya, aku kira hantu. Tumben datang cepat."

Kemudian, khayalan aku bergerak ke tingkah laku anggota kelas yang sama aja anehnya. Yang paling aku ingat pas jam istirahat. Kelas kami adalah kelas yang paling memiliki akses terdekat ke kantin. Ibaratnya kalau kami menyuruh seekor siput untuk membeli gorengan di kantin, sebelum waktu istirahat habis, siput itu udah bisa bolak-balik tiga kali dari kelas ke kantin. Nah, berhubung jarak antara kelas dan kantin yang terlalu dekat ini, membuat teman-teman sekelas malas makan di kantin dan justru membawa piring ke kelas aja dan makan di kelas. Keanehan mereka dimulai dari sini. Tidak ada satupun dari mereka yang mau makan di mejanya sendiri. Sudah jelas alasannya supaya meja mereka tidak kotor karena bekas makanan seperti kuah yang tumpah atau minyak-minyak yang menempel di meja. Licik, kan?

Selain pas istirahat, mereka juga sama anehnya kalau lagi belajar. Lokasi kelas kami yang berada dekat dengan perbatasan antara kelas kami dan kelas sebelah juga memungkinkan adanya keanehan lain. Kami bisa dengan mudah memerhatikan siswa sekolah tetangga hanya dari kelas. Sebagian besar siswi yang ada di kelas akan heboh kalau ada cowok ganteng sekolah tetangga yang lewat di perbatasan sekolah kami. Kalau udah gini, guru di kelas gak akan dianggap. Mereka justru menatap ke luar jendela dan mencoba menggoda si doi yang tak sadar sedang diperhatikan dari jauh. 

Selain itu, lagi-lagi karena lokasi kelas kami ini sedikit unik, kami bahkan lebih mudah mendengar bel sekolah sebelah daripada bel sekolah sendiri. Bila gurunya sedikit bingung, kami dengan jahatnya membodoh-bodohi beliau dengan mengatakan jam pelajaran sudah habis. Padahal sang guru hanya baru menulis judul materi di papan tulis.

Kelakuan kami pas guru berhalangan masuk juga gak kalah aneh. Entah ide siapa, kami punya speaker portable yang disembunyikan dalam lemari kelas. Kalau guru gak ada, speaker ini akan menjalankan tugasnya dengan baik. DJ (Dangdut Jockey) kelas kami seperti sudah tau tugasnya. Tanpa disuruh, mereka akan menghidupkan musik Dangdut paling populer saat itu, lalu melakukan goyangan ciptaan kami sendiri yang lebih mirip goyangan ikan pesut lapar sedang minta makan pada tuannya. Lagi-lagi, karena lokasi kelas yang cukup terasingkan ini membuat kegiatan kami satu ini sulit dideteksi oleh guru-guru piket yang ada.

Selain speaker, kami juga punya beberapa barang-barang keramat. Yang paling aku ingat itu adalah cermin. Setiap hari, selalu ada setidaknya satu cermin yang harus pecah. Besoknya mereka beli cermin lagi, dan pecah lagi. Gitu terus sampai tukang jual cermin hafal dan inisiatif nganterin cadangan cermin ke kelas kami. Aku sih ngerti kalian gak ada yang cakep, tapi ingat aja itu masih wajah kalian sendiri kok. Kalau takut sama wajah sendiri, gak usah gitu-gitu juga sampai mecahin cermin. Jangan kayak peribahasa "buruk wajah, cermin dibelah."

Yang paling mengherankan itu ketika kelakuan setan mereka ini berubah jadi malaikat sepenuhnya, kalau guru yang mengajar itu adalah wali kelas kami sendiri. Seperti penjilat pada umumnya, kami akan lebih tertib dan disiplin di hadapan wali kelas demi menyembunyikan jati diri ber-aura negatif milik kami. Selain tertib dengan wali kelas, ada satu mata pelajaran yang membuat kami lumayan tenang. Pelajaran Biologi, dengan bab Reproduksi.



Tapi meskipun kami aneh dan kelakuannya gak bisa diukur logika, kami tetap mengaku bahwa kami adalah satu keluarga. Sebuah keluarga besar bernama IPA lima. Walau jarak dan waktu sudah memisahkan kita, aku tetap percaya bahwa akan ada suatu masa dimana kita bisa bertemu dalam suka cita. AMIN !!!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar