About Me

Foto saya
Hanya orang biasa yang menyempatkan untuk berkarya.

Jumlah yang sudah singgah

Senin, 30 September 2019

Tilik

Entah sudah berapa tulisan yang berakhir menjadi sebuah draft mati tanpa pernah diposting di sini. Ketika aku lihat daftarnya ada tentang gunung, ada tentang ulang tahun, ada tentang keresahan jiwa. Pada akhirnya semua tidak pernah selesai dan pantas untuk dipublikasikan. 
 

Di saat aku menulis ini aku yakin akan berhasil selesai. Sebab lagi-lagi ini tulisan tentang kamu.

* * *

Persis ketika matahari sudah terbenam dan jingga telah berganti gulita, pesanmu masuk di layar handphone.

Kamu mengajak untuk bertemu. 

Alasanmu masuk akal, setelah lebih dari satu tahun yang lalu kita terakhir bertemu, kita tidak pernah lagi bisa berada di jadwal yang cocok untuk sekedar bertatap muka.

Seringkali ketika aku bisa, kamu tidak.

Ketika kamu bisa, kamu tidak mengajak.

Tak bisa dipungkiri aku ingin melonjak kegirangan.

Kita bertemu kembali. 

Namun sayangnya kita menghabiskan waktu yang sangat singkat. 

Mungkin bagimu sudah cukup lama, namun buatku yang benar-benar sejak dari tahun lalu memendam rindu, dua jam bukan waktu yang terlalu panjang.

Kamu ingin lekas pulang karena sudah tak tahan merasa kantuk dan juga esok adalah Senin. 

Akan berbahaya juga jika kamu bangun kesiangan dan terlambat bekerja.

Berat hati aku menyudahi. 

Hmm..

Paling tidak, aku sudah menatap wajahmu.

* * *

Apa yang sudah kamu lakukan kepadaku?

Pertemuan singkat tadi bisa-bisanya membuat aku jadi sulit tidur.

Sialnya ini sudah pukul tiga dini hari.

Saat mulai memejamkan mata, alih-alih terlelap justru yang muncul di kepalaku adalah senyummu.
 
Harusnya aku terganggu. Nyatanya sama sekali tidak.

Sepertinya aku bahagia, namun terkejut juga.

Aku pikir aku sudah tidak punya perasaan apa-apa terhadapmu.

Sudah tau bukan bahwa itu adalah kisah lama?

Aku memang pengagum beratmu saat masih putih abu-abu.

Tapi itu dahulu.

Setengah dekade berlalu dan aku baru menyadari; ternyata aku masih orang yang sama.

Masih mengagumimu.

Yang sedikit membedakannya adalah mimpi-mimpiku.

Sebab...

Pemikiranku bertumbuh.

Perasaanku bertambah.

Tak bisa aku elakkan bahwasanya saat dulu mimpiku adalah menua bersamamu.

Tetapi aku yang saat ini adalah pengagum yang benar-benar mendoakan agar kamu menemukan teman hidup yang pantas.

Dan itu jelas bukan aku.

Jelas sekali.
Itu sebabnya ketika tadi kau melontarkan kalimat bahwa bisa saja aku menjadi imammu, aku bersikukuh meyakini bahwa aku hanya akan menjadi sandal yang kamu gunakan saat berwudhu.

Lucu bukan?

Itu sebabnya saat membicarakannya tadi kita terpingkal.

Sejatinya, baik kamu ataupun aku sudah tau, sejak dahulu, obrolan tentang kita yang menjadi satu, hanya terwujud nyata dalam mimpiku.

Sekarang aku tegaskan, kamu tak usah khawatir, aku sudah lama berhenti mengejar.

Sebagai seorang yang veteran mengagumimu, aku sudah menilik;

Kurang dari setengah dekade lagi, akulah orang paling bahagia di hari akadmu

di antara kerumunan
 
yang menyaksikan.


(2019)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar