About Me

Foto saya
Hanya orang biasa yang menyempatkan untuk berkarya.

Jumlah yang sudah singgah

Minggu, 27 Januari 2019

Menulis Kembali

Sudah cukup lama tidak menulis.

Berulang kali tulisan saya di blog ini berakhir menjadi sebuah draft yang tidak pernah dipublikasikan. Terakhir saya menulis mengenai bagaimana 2018 saya berlalu dan apa saja yang saya ingin capai di 2019, atau tulisan lainnya mengenai keluhan dan ketidaknyamanan saya terhadap sesuatu. Semuanya sama-sama berakhir pada tombol close dan menjadi sebuah draft saja.

Mungkin akan saya post di saat saya merasa tulisan itu baik untuk diposting.

Beruntung hari ini saya menemukan kembali sesuatu yang benar-benar ingin saya tulis. Bukan sekadar memenuhi blog dengan tulisan yang dibuat saat mengisi waktu luang saja. Kali ini saya menulis dengan meluangkan waktu. Artinya, saya benar-benar ingin menyampaikan pemikiran saya.

Oh ya, mungkin penggunaan kata 'saya' yang menggantikan 'aku' di blog ini (seperti biasanya) terlihat lucu. Seperti bukan seorang 'Andi' yang menulis, melainkan orang lain. Entahlah. Saya benar-benar ingin melakukannya tanpa tahu alasannya.

Mungkin agar postingan ini terlihat dan terkesan lebih serius dari biasanya.

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, saya berulang kali menulis dan tidak jadi mempublikasikan tulisan itu. Saya mengurungkan niat dan merasa, "ah nggak usah lah" karena tulisan itu tidak cukup menggambarkan kegelisahan hati saya. Seperti tidak adanya kejujuran di sana. Untungnya saya menemukan apa yang benar-benar saya ingin tulis..

Kemarin, saya baru saja menonton video perbincangan Raditya Dika dan Chandra Liow yang menjadi trending topic youtube (sekarang nomor 11) dan berdurasi satu jam lebih. Di ujung perbincangan ada suatu hal yang menggelitik hati saya dan sadar akan sesuatu.

Bagian itu adalah mengenai bagaimana Chandra mengekspresikan rasa sedih dan patah hati setelah putus dari pacarnya. Kemudian Radit berpendapat, "Semua seniman itu wajib hukumnya untuk patah hati, untuk sedih." Alasannya ya karena ketika kesedihan datang entah kenapa energi dan kreativitas itu semakin tumbuh.

Saya sendiri, di saat itu pula menyadari dan mengamini ucapan Radit. Berulang kali saya menulis di blog ini dan mengurungkan niat mempublikasikan karena tidak ada nyawa di postingan itu. Saya menyadari dan mengingat kalau memang benar bahwasanya nyawa tulisan saya selalu bersumber dari patah hati saya.

Sedangkan dalam beberapa tahun terakhir, saya tidak pernah merasakan patah hati lagi. Di momen yang juga bersamaan, saya merasa rindu dengan patah hati.

Terdengar bodoh kan? Tapi sungguh itu benar adanya.

Mulai dari itu saya mencari cara agar bisa menikmati lagi patah hati yang sudah lama tidak saya rasakan. Saya awali dengan mencoba menonton instastory perempuan-perempuan yang dulu menjadi sumber kreativitas saya, alias yang pernah mematahkan hati saya. Saya ketikkan nama mantan pertama saya.

Saya melihat instastory-nya yang sedang menikmati perjalanan berdua dengan kekasih barunya di atas sebuah transportasi umum. Kepalanya bersandar di pundak lelaki yang saya-tidak-kenal-siapa namun saya yakini mampu membahagiakan perempuan yang pernah ada di hati saya itu.

Saya tersenyum kecil. Saya mulai mendapat rasa sakit yang saya rindukan itu. Saya mulai merasakan otak saya kembali menemukan daya kreatifnya.

Tidak berhenti di sana, saya mulai memantau satu per satu foto yang ada di feed Instagram miliknya. "Semakin cantik." saya tertegun. Mungkin karena dia semakin bahagia, entahlah..

Saya menekan tombol kembali dan mengetikkan nama perempuan lain yang juga pernah mematahkan hati saya. Kali ini bukan seseorang yang pernah saya miliki, namun hanya seorang yang menjadi angan-angan yang saya ingin-ingin.

Sama seperti tadi, saya memantau story terlebih dahulu. Saya menyaksikan sebuah potret senja yang begitu cantik di antara dua bangunan tinggi. Sejenak saya berpikir jika jingga yang ia potret adalah cerminan dirinya sendiri: indah dan menawan.

Rasa sesak di dada mulai timbul, sepertinya saya merindukan patah hati.

Saya tidak melanjutkan mengetikkan nama perempuan lain karena saya tahu hanya ada dua perempuan itu yang benar-benar dan secara sadar ada di hati saya, karena ketika dia tidak ada, saya benar-benar kacau sejadi-jadinya. Benar yang diungkapkan lagu Let Her Go, "..only know you love her when you let her go.."

Saya mulai menimbulkan rasa patah hati yang pernah ada itu. Tapi masih belum cukup untuk menulis.

Lantas saya membuka youtube dan ingin menemukan sentuhan menyakitkan. 

Algoritma youtube entah bagaimana mengetahui apa yang saya ingin. Ia menampilkan video Dzawin dan Wira Nagara yang sedang mengobrol tentang cara menikmati patah hati.

Saya menikmati obrolan itu bahkan hingga ke kolom komen.

Saya menemukan sebuah komentar yang di pin oleh Dzawin seperti ini: "Saya sudah tidak percaya kalau laki-laki bisa terpuruk karena patah hati."

Hmm?

Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan hal itu? Apakah laki-laki memang diciptakan berbeda dari perempuan sehingga mungkin tidak bisa terpuruk patah hati?

Saya hanya mengasumsikan keegoisannya membuat dia salah menyangka bahwa yang paling punya perasaan hanya perempuan.

Saya ingat saya galau sejadi-jadinya saat ditinggal oleh dua perempuan yang saya ceritakan di atas. Namun saya juga pernah tidak peduli saat hubungan saya berakhir dengan dua perempuan lain, bahkan saat saya putus, saya sama sekali tidak merasakan kesedihan maupun kehilangan.

Penjelasannya sederhana. Di hubungan dengan dua perempuan pertama, saya yang lebih mencintainya. Di hubungan saya yang lain, saya tidak mencintai mereka, maka saya tidak patah hati.

Ini bukan masalah gender. Saya rasa semua orang berhak dan bisa patah hati. Siapa yang patah hati atau tidak patah hati hanyalah masalah siapa yang lebih mencintai.

At the end of the post, saya menyadari satu hal.

Patah hati bisa terjadi pada siapa saja. Seorang Chandra Liow dan Dzawin Nur yang kita tau penuh dengan segala kesuksesan mereka, juga bisa patah hati. Padahal dulu saya berpikir, sulit untuk orang seperti mereka merasakan kehilangan dan digantikan. Namun mereka berdua sama-sama berujung pada ditinggalkan. Mereka digantikan seseorang yang baru dan yang lebih pantas.

Ketika patah hati sudah kita ketahui bisa menimpa siapa saja, sekarang persoalannya adalah bagaimana cara kita menyikapinya?

Dan saya, memilih menikmati patah hati dengan menulis postingan ini.


1 komentar:

  1. Titanium Glass in Glass - The Tithologies
    The Tithologies titanium hair dye at the Tithologies at omega seamaster titanium Tithologies. This suppliers of metal glass-shaped glass glass titanium cartilage earrings is made from stainless nano titanium babyliss pro steel and measures approx. 8" x

    BalasHapus