About Me

Foto saya
Hanya orang biasa yang menyempatkan untuk berkarya.

Jumlah yang sudah singgah

Selasa, 24 November 2020

pagi

Sepertinya ada yang tidak selesai tadi malam. Jika semuanya baik-baik saja, tidak mungkin pagi ini aku bangun dalam keadaan sesak.

Aku benci ketika hangat mentari pagi berganti dengan dingin dan kecemasan. Entahlah. Aku pikir aku sudah mengikhlaskanmu. 

Ternyata tidak.

Pagi ini aku kembali mengenangmu.

Tidak seperti pagi-pagi yang indah waktu itu. Saat aku terjaga sebab mendengar dering telepon genggamku yang berasal dari panggilanmu. Dengan mata yang masih setengah tercelik aku memaksakan untuk menjawab itu. 

"Iya..?" ujarku dengan suara parau.

"Bangun... Kerja gak sih? Udah jam berapa ini, tidur jangan kayak orang mati." jawabmu.

"Iya, iya.." Aku langsung mematikan panggilan dan berjalan gontai menuju kamar mandi.

Pagi itu dan beberapa pagi setelahnya pun semuanya masih sama dan serupa; selalu ada suaramu. 

Kecuali hari ini.

Tak ada semangat yang seperti dulu. Tak ada aku yang tersenyum lebar saat berangkat dari rumah menuju kantor. Tak ada silau yang menelusup masuk melalui celah-celah kaca helm. Tak ada engkau.

Aku benci ketika tiap pagi aku dipaksa untuk mengenangmu.

Aku benci ketika harus melalui jalan yang memutar jauh agar aku tidak melewati rumahmu saat perjalanan menuju kantor.

Aku benci ketika di depan meja kerja, aku tanpa sadar melirik ke arah tempat duduk yang dulu selalu ada kamu.

Aku benci semuanya. Karena semua hal mengingatkanku padamu.

Dan pagi ini, aku memilih untuk menikmati duka. 

Aku mencoba melupakanmu lewat sesapan nikotin pertama pagi ini. Menyesap semuanya dalam-dalam, menerobos dadaku yang sebenarnya sudah sesak dari tadi malam.

Dalam tiap hembusan asap yang keluar dari mulut, aku berharap bayangmu semakin pudar di ingatan.

Aku benci pagi, tapi aku tidak membencimu.

Aku benci pagi yang tidak ada kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar