About Me

Foto saya
Hanya orang biasa yang menyempatkan untuk berkarya.

Jumlah yang sudah singgah

Sabtu, 12 Februari 2022

Capek

Hellowz Allz...

Kayaknya udah pas nih cerita sekarang, timingnya udah tepat.

Perlahan-lahan kayaknya udah pada tau ya kalo aku sekarang udah pindah kerja. Selama dua tahun ini aku kerja di sebuah Creative Agency sebagai seorang Photo-Video Production Manager. Semuanya berjalan cukup menyenangkan untuk sebuah pekerjaan (karena kita tau semua pekerjaan pasti menyebalkan), dan sebenarnya gak ada masalah apa-apa yang mendorong aku ingin resign dari perusahaan itu. Teman-teman kantor yang asik, pekerjaan yang gampang, lingkungan yang nyaman, semuanya bener-bener terlihat baik.

Tapi satu-satunya yang aku takutkan hanyalah 1: jenjang karir

Aku gak tau mau sampai kapan aku bekerja di sana dan sampai tahun berapa industri dan perusahaan ini bertahan. Aku gak tau gimana bisa punya keluarga sendiri dan menghidupi anak istri (kalo udah punya) dengan pekerjaan yang gak tau sampai kapan bisa bertahan.

Contohnya aja kedatangan pandemi kemarin cukup mengguncang perusahaan. Gaji dipotong sampai waktu itu aku cuma terima sekitar sejuta lebih. Pedih banget kan.

Kita gak pernah tau masalah sebesar apa yang bisa menyebabkan hal itu terulang kembali, entah itu pandemi lain ataupun apa, yang jelas keadaan selalu bisa menjadi buruk secara tiba-tiba kapan saja.

Oleh karena itu aku mencari-cari pekerjaan baru (sambil berharap suatu saat keterima jadi PNS), mengantar lamaran ke sana ke mari, sampai akhirnya November lalu aku berhasil keterima di sebuah perusahaan Pulp and Paper sebagai seorang Accounting Estate. 

Apa tuh Estate?

Jadi bahasa gampangnya itu adalah kebun. Sebuah perusahaan penyedia Pulp dan Paper pastilah harus punya kebun sendiri supaya produksinya lancar. Nah jadiilah aku sebagai seorang akuntan di sebuah kebun.

Untuk orang yang hari-hari tinggal di kota, dari kecil sampai bekerja, culture shock yang aku rasain bener-bener membebani mental. Tinggal di kebun bikin aku stress hampir tiap hari. Akses yang jauh dari kota, fasilitas yang apa adanya, dan hiburan yang bisa dibilang nggak ada, bener-bener memukul mental aku sebagai orang yang hidup serba ada, akses dekat, dan tiap hari kopa-kopi.

Sekarang aku udah kerja sebulan lebih, mulai mencoba membiasakan diri (walau sulit), selera makan berkurang dan yang paling parah gak pernah ada satupun malam yang bisa aku habiskan dengan tidur yang nyenyak.

Aku bener-bener ngerasa gak bisa nahan beban kayak gini lagi. Satu-satunya yang bisa bikin aku bertahan cuma rasa takut gak bakal punya pekerjaan lain kalau aku resign dari sini. Capek kerja tetep gak sebanding daripada capek nyari kerja.

Alasan pendukung lain adalah rasa senang orang tua ketika aku keterima di sini, mereka senang sekali sehingga hampir di setiap obrolannya dengan orang lain dia menceritakan tentang 'keberhasilan' aku. Walaupun kadang tiap aku ngeluh mereka selalu bilang, "Terserah Andi aja, kalau ngerasa jenuh, gak kuat, gak usah ditahan-tahan, berhenti aja."

Tapi aku yakin sih dari dalam lubuk hati mereka masih menginginkan aku untuk bertahan. Setidaknya sampai nanti aku bisa ngasih sesuatu buat mereka. 

Aku gak tau aku bakal bertahan sampai tahun berapa. Bisa tiga bulan lagi, bisa tahun depan, atau bisa tahun depannya lagi. 

Satu hal yang aku yakini adalah, "I can't hold this any longer."

Aku gak mungkin bakal nyia-nyiain seluruh hidup aku untuk pekerjaan ini.

Terakhir, untuk orang-orang yang mencintai pekerjaannya di luar sana, aku bangga sama kalian! Sehat-sehat terus ya.

Semoga aku juga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar